Kisah lama kota Batu : Semuanya telah berubah, Semuanya tak kan pernah sama, Tak ada yang abadi.

5144f-alunalunbatu

Alun-alun Kota Batu setelah dibangun dan diresmikan pada awal mei 2011

Dari Lantai dua di sebuah cafe kecil,  aku melihat sebuah perubahan besar telah terjadi di kota ini. Dahulu kota ini menjadi bagian dari pundi-pundi kehidupan masyarakat setempat, hijaunya gunung, sedapnya aroma alam serta pemandangan terbaik untuk berdamai bersama alam.

  Sekarang telah berubah. Dalam hitungan beberapa tahun saja kota ini melahirkan tempat-tempat modis ala kota kota besar, semakin luasnya jalur utama yang menghubungkan antar kota, tak hanya itu  orang-orang luar daerah berbondong-bondong membeli puluhan hektar tanah untuk investasi dimasa mendatang. Ingat, daya tarikmu tak akan abadi, kotaku!.

    Sampai saat ini pemandanganya tak terlalu buruk, setidaknya setiap pagi ak masih bisa melihat gagahnya gunung panderman, damainya suara burung-burung berkicau serta sawah-sawah yang terbentang luas dari arah Timur. Dalam benakku aku harus mengiyakan sebuah kutipan dari salah satu judul lagu paterpan ‘tak ada yang abadi’, iya segalanya mau tak mau akan berubah. sebentar lagi kota ini akan menjadi destinasi favourite orang-orang dari berbagai daerah di penjuru Dunia. Beberapa waktu lalu saya bersama satu teman saya sempat mengunjungi sebuah acara yang cukup merakyat. berbagai macam pertunjukan budaya lokal mewarnai keindahan kotaku siang itu, meski terik matahari yang cukup membuat setiap kening setiap orang mengkerut tak membuat orang-orang berhenti melihat pertunjukan tersebut, tak hanya itu ak juga melihat tiga ‘bule’ (sebutan orang asing di Indonesia) sedang merekam salah satu pertunjukan yang dipersembahkan oleh pemerintah setempat tepat di jalan utama alun-alun. Saat itu kebetulan saya berniat untuk mendokumentasikan aktivitas di beberapa sudut lokasi acara.

   Kali ini saya ingin mengetahui bagaimana komentarnya tentang acara yang digelar, sambil sedikit mempraktekan bahasa inggris yang pas-pasan ini aku memberanikan diri untuk mewawancarai ketiga turis asing tersebut. Mereka merupakan traveler yang Berasal dari salah satu negara skandinavia yaitu ‘Denmark’ dan  tertarik mengelilingi beberapa tempat di Indonesia. sebelumnya mereka telah menjajakan ketiga tempat yaitu bandung, Jakarta, jogja, setelah itu bali yang akan mengakhiri kunjungannya. Dari momen tersebut saya harus mengakui betapa populernya kota ini bersama perubahan yang cukup segnifikan. Kota kecil yang telah menjelma menjadi kota dengan daya tarik yang luar biasa.

    Namun di lain sisi, beberapa orang merindukan sosok lama kota ini, yang sejuk tak ada lagi macet, banjir, serta  suara alam yang menentramkan hati. Semuanya telah berubah, semuanya tak kan pernah sama, tak ada yang abadi.

batu-tempo-dulu-1
Alun-alun kota Batu tempo dulu
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s