Menelusuri Kota Jakarta Melalui Sebuah Pertanyaan

Siang itu saya memutuskan untuk menemani teman saya yang akan merayakan hari bahaginya (Pernikahan) bulan depan. Kami pergi ke salah satu pasar populer di Jakarta, yaitu Pasar Tanah Abang. Sebetulnya tidak ada yang spesial dari perjalanan ini, namun menelusuri kota Jakarta dengan sahabat di akhir pekan adalah sesuatu hal yang menarik.

Perjalanan siang ini hanya buah dari kebetulan saja, tak ada rencana sebelumnya. Seperti biasa kini saya ditemani karib lama, yang baru saja saling kontak ketika kami sama sama berdomisili di Jakarta.
Setelah semalaman bercengkrama bersama malam yang panjang, tiba-tiba siang ini saya dirasuki rasa penasaran yang cukup aneh. Bagaimana asal mula pasar ini dinamakan  Tanah Abang. Iseng sih, cuman berawal dari rasa penasaran. Ku tanya pada orang pertama dalam perjalanan ini, yaitu supir ojek online.

Pasar Minggu
Dok.Pribadi

“Pak kenapa pasar tanah abang kok dinamain tanah Abang?” Tanyaku siang itu di atas sadel ojek online.

“Kurang tau saya, hehe”. Jawabnya sambil tak seberapa serius.

Tak kutemukan sedikit ‘clue’ dari jawabannya, kami berhenti menuju stasiun pasar minggu. Sebelumnya kami telah berencana bertemu di stasiun manggarai, stasiun yang terkenal sangat ‘bringas’ pas pagi hari dan sore hari ketika orang berangkat kerja dan ketika pulang.

The Jack
Dok.Pribadi

Sepanjang perjalanan kulihat gerombolan orang menggunakan atribut “The Jack”, dengan warna khasnya mirip raja Jalanan Ibu Kota, siapa lagi kalau bukan Metro Mini. Percayalah, ia (Metro Mini) mempunyai segudang kharisma sebagai raja jalanan dibanding kendaraan lainnya.

Merasakan menggunakan transportasi umum di Jakarta lumayan menarik. Bagiku ini bukan sekedar menggunakan jasa, tetapi bernostalgia lima tahun lalu ketika perjalanan Malang-Banyuwangi bersama para sahabat.

KRL Jakarta
Dok.Pribadi

Setelah kami sampai di Stasiun Tanah Abang, selanjutnya kami berjalan memasuki kampung Bali, entah kenapa ada kampung di dalam kompleks pasar, menarik sih saya mendapatkan jawaban yang lucu.

Namanya Asep, umurnya tak mau disebutkan terlihat seperti bapak-bapak yang jelas bukan kakek.

“Pak, ini kampung ya?” tanyaku sambil mengatur tali sepatu yang sedang copot.

“iya, ini kampung tuh sampe sono tuh.” terangnya sambil menunjuk sepanjang jalanan.

“oh iya pak, kenalkan saya latif, kalau boleh tau kenapa kok pasar ini dinamai tanah abang ya?” tanyaku sembari mendekatinya.

” Wah, dari sononya dek udah lama tuh, tau kenapa.” Ujarnya sambil tertawa aneh mungkin ia berpikir aneh dengan pertanyaan ku.

Jawabannya tidak memberikan penerangan apapun, temanku melihatku aneh sambil meneruskan perjalanan. Kami terus saja menelusuri jalanan kecil yang rumit ini, kanan kiri kami dihadapkan rumah-rumah yang menjual makanan, gorengan, baju dan banyak anak kecil bermain.

Kampung Bali, Tanah Abang - Jakarta
Dok.Pribadi

Sementara terus berjalan ke arah masuk pasar Tanah Abang, tiba-tiba terdengar beberapa orang bernyanyi seperti ini :

Tai lalat di bawah bibir, orang lewat cuman mampir, tanya harga doang.

 

Aku hanya menebar senyum seprti orang-orang di depanku yang juga mendengarkanya, padahal sih dalam hati udah ngakak (hahahahaaha anjaayyyyy).

Temanku mampir ke setiap pedagang sarung, mukenah dan sajadah. Sekilas pemandangan seperti di timur tengah, entah dimana yang jelas bau parfum, buah kurma menggunung dan pernak-pernik oleh-oleh khas haji juga terpajang cukup indah.

photo6073251896379942903.jpg

 

Kami melanjutkan perjalanan, sampai akhirnya langkah kami terhenti pada sebuah toko muslim. Pada saat yang sama setelah sekian lama kami mencari dan membeli beberapa perlengkapan nikah, aku menanyakan pertanyaan yang masih saja memutari kepalaku ini.

“Oh iya bang, kenapa pasar ini dinamakan Tanah Abang ya?” tanyaku yang sedikit lebih serius ini. Sambil membeberkan contoh sajadah yang ia tawarkan, dirinya menjawab

“Dari sebelum merdeka, kalau dulu Batavia”. David (27), salah seorang pedagang sejadah tanah Abang.

“Oh gitu ya, oke bang makasih ya.” jawabku dengan sedikit lebih tenang.

Pedagang Sajadah Tanah Abang

Setidaknya bang David memberikan jawaban entah benar atau salah, setidaknya ia berhasil memberiku sugesti baik. Setelah berhasil tawar-menawar tak lupa ia memberikan hadiah kepada temanku sebagai tanda terimakasih, sebuah tas gantung bercorak batik coklat lucu.

Tak terasa seharian kami menelusuri pertokoan di beberapa lantai di Pasar Tanah Abang, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Perjalanan kami ditutup dengan awan mendung serta rintikan hujan gerimis, jalanan becek dan bau khas area sayur dan buah.

Kami menuju Stasiun Tanah Abang dan bergegas membeli tiket agar tak terlalu senyap. Dalam perjalanan pulang saya mendapatkan foto menarik ini beberpa foto yang berhasil saya abadikan. Suara sayut sayut shalawat mulai terdengar, nampaknya hari akan semakin petang. Para pekerja berlalu lalang melewati batas antara rel kereta dan halte.

Petang Hari Stasiun Pasar Minggu

 

Terimakasih Bebek sahabat lama, Jakarta, Mas David dan Pasar Tanah Abang.

Advertisements

2 thoughts on “Menelusuri Kota Jakarta Melalui Sebuah Pertanyaan

  1. Mantappp, disetiap langkahmu kai tuliskan ceritamu.. Tak ada kekhawatiran dalam setiap tarian jemarimu dipasar itu.. Meskii begitu tetap ku pantau dari setiap tolehan ku.. Aman Kan??? HPmu haha..

    Kerenn tapi nikahku masih tajun depan bro..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s