Dua Jam Menikmati Masa Dewasa di Tahun Ini.

“Duduk yang bener, ssst ada gubernur tuh,” kata seorang Ibu kepada anak laki-lakinya yang autis di Jeco Cilandak Town Square malam itu di awal Februari.

Dilihat dari parasnya, anak ini terlihat seusia saya, entah lebih tua atau muda sedikit. Bersama kedua perempuan yang satu Ibunya. Namanya juga orang tua seberapa buruk kondisi anaknya pasti akan tetap berlaku tulus.

Remaja ini menikmati yutup sambil memasang headset berwarna putih di kepalanya, serasi dengan sweeter berbahan katun yang berwarna abu-abu.

Setiap kali ia bergerak pindah tempat selalu dibatasi, mungkin mereka takut jika anak itu menggangu orana-orang lain disini. Biarpun begitu ia tetap saja mengikuti ucapan kedua wanita tersebut, meski dalam benaknya sebetulnya ia ingin bebas untuk menikmati dunianya. (Mungkin)

Ia menggenakan kacamata hitam mengkilap karena pantulan cahaya lampu-lampu model klasik seprti lampu dop warna kuning, kabelnya menjalar panjang ke bawah. Meski begitu ia terlihat menikmati suasana.

Sekian, tak lama kemudian mereka pergi. Hingga hanya aku dan beberapa pengunjung saja yang tersisa.

Hari ini tepat tiga hari yang lalu teman lamaku berulang tahun. Dan saat tulisan ini dibuat dia sedang duduk diatas kursi milik PT KAI (Kereta Api Indonesia) dangan segala keromantisanya menuju Ibu Kota.

Ada dua fase yang harus saya akui bahwa dia selalu lebih menang ketimbang saya. Pertama dalam pertandingan PES dan kedua perkara pasangan.

Bagi orang diluar Jakarta, mereka akan merasa sedikit lebih bangga ketika kedua kakinya bisa menginjak di sana. Bagaimana tidak di sana kalian akan menemukan banyak hal baru, entah sekedar teman yang berusaha dekat karena mengharap bantuan, sampai seseorang yang gila kerja, dan heningnya suasana perkantoran di malam hari.

Tak hanya itu ada perkumpulan gay, lesbian, para peminum, kyai dan perjaka sedang tertawa warkop kecil pinggir jalan karena berdebat soal cinta dan uang ! Hahaha

Memang Jakarta kota metropolitan, selain karena beragam corak manusia, ada hal yang lebih utama yaitu 80% lebih peredaran uang di Indonesia ada disana. Setiap tahun para sarjana bersaing mencari ladang dana, entah sementara atau selamanya.

Sudah dua jam aku habiskan untuk bercerita di sebuah outlet di salah satu Mall di Jakarta selatan. Donatku juga sudah habis, meski Thai Tea masih ada setengah. Perlahan gelembung embun di gelas plastik ukuran medium ini menetes hingga lantai.

Suara musik masih terdengar, para pengunjung cafe perlahan menghilang. Pelayan sibuk membersihakan meja para tamu.

“Pak permisi ini sudah?,” tanyanya sambil mengambil beberapa makananku yang telah usang.

“Okay,” jawabku singkat.

Seprtinya waktu menunjukkan pukul 20.38 malam, mungkin sudah saatnya untuk kembali pulang. Biar Dilan terus berujar, rindu ini tak kan pernah hilang. Selamat malam wahai sayang.

Ini ceritaku hari ini. Kamu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s