Sebuah Catatan Untuk Keluarga Tercinta

Sudah satu tahun lebih aku meniggalkan kota kelahiranku. Pagi itu tepat 26 Agustus 2017 bersama rombongan keluarga, kami beranjak ke Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang menuju Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Pagi itu pula seluruh amanah dan harapan keluarga sepenuhnya diberikan kepadaku. Harapan mereka adalah agar kelak aku menjadi seorang laki-laki dengan nasib yang lebih baik.

“Nak jangan pernah tinggalkan solat ya, doa umik selalu menyertaimu” sepucuk pesan dari umikku yang sampai saat ini masihku simpan.

Setiba di Jakarta, sejujurnya pada hari itu, aku tak pernah terfikirkan pekerjaan apa dan bagaimana nasibku ke depannya. Aku hanya berbekal tekad, selebihnya hanya motivasi dari salah satu kakaku yang menerima kedatanganku yang juga terus membimbingku untuk terus belajar dan yakin semuanya akan baik-baik saja.

“Kheir In Shaa Allah, barangkali nasibmu di Jakarta, sekarang kamu minta maaf ke umi sama abi biar didoain kerja di Jakarta,” pesannya melalui telfon gengamku seminggu sebelum aku terbang ke Jakarta.

Terkadang seketika aku terdiam untuk meresapi rindu itu. Rindu yang nikmat, sambil mengingat dinginya udara kota, hangatnya pelukan orang-orang terdekat dan renyahnya obrolan sore bersama sahabat-sahabat kecil di kedai samping hamparan persawahan luas.

Namun, kini aku menyadari jika usiaku sudah beranjak dewasa, kenangan-kenangan itu hanya memori indah yang akan menguatkanku untuk terus berjalan. Iya perjalanan masih sangat jauh.

Wahai sahabtku, jika saja aku berkata jujur, yang aku inginkan hanya pulang. Pulang kembali di mana ketenangan hadir di antara canda tawa kita, di antara ejekan-ejekan receh sore hingga menjelang magrib.

Sementara itu, Allah SWT masih terus memperlebar jarak kita. Allah SWT mempunyai rencana lain, dan tentu saja Latif harus mempercayainya bahwa itu adalah rencananya yang terbaik.

Dalam tulisan ini Latif hanya ingin berterima kasih kepada semua orang terdekat. Termasuk orang tua, umikku yang selalu mendoakanku setiap detik, untuk abiku yang bekerja keras membiayai seluruh kebutuhanku yang tak pernah kurang sedikitpun dari pagi hingga petang.

Untuk Kakeku yang dulu mengantarkaku sekolah dasar hingga depan gerbang dan sekarang terdengar kabar berbaring di kasur karena sudah sakit-sakitan.

Kepada keluarga besar yang selalu mendukungku, meski aku punya banyak salah, tak ada yang sempurna. Latif juga ingin minta maaf ke semua sodara yang selama ini mungkin latif pernah salah bicara atau tingkah laku yang tidak mengenakkan.

Wassalam, salam hangat dari Jakarta, 9 September 2018.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s