Secarik Cerita Jelang Ramadhan 2019

Source:

Sudah sekitar dua jam kuhabiskan waktuku di cofe shop. Air hujan sore tadi masih membekas di sepanjang kawasan Kemang Selatan, Jakarta, Minggu (7/4).

Tanp terasa, saat lagu Maher Zain berjalan di spotify tiba-tiba aku teringat bulan suci Ramadhan. Tahun ini Muhammadiyah menetapkan puasa pada 6 Mei 2019 dan Lebaran pada 5 Juni 2019. Pada tahun ini pula akan menjadi Ramadhan kedua bagiku selama tinggal di Jakarta.

Tentu saja ketika momen bulan puasa akan tiba selalu membuatku bahagia, dan perasaan itu selalu aku rasakan sejak pertama kali ibuku mengenalkanku puasa sekitar 17 tahun lalu.

Waktu pertama kali ibuku mengenalkanku puasa pada saat aku uduk di bangku kelas 3 SD. Dia mengatakan agar aku memulai belajar berpuasa sejak dini.

“Bang Latif belajar puasa ya? puasa dhuhur dulu enggak papa. Kalau enggak kuat boleh mokel,” katanya saat mengajakku untuk memulai puasa. 

Harus diakui bahwa latar belakang keluargaku memang getol menanamkan nilai-nilai Islam sebagai prinsip hidup. Tapi jangan disalah artikan bahwa kami benar-banar orang yang sempurna ya? haha..

Setiap orang akan selalu berharap dapat menikmati berpuasa bersama keluarga. Termasuk, aku. Mungkin, saat tahun lalu perasaan rindu berkumpul bersama keluarga sangat besar. Tapi pada tahun ini aku merasa bisa meredam sedikit kerinduan itu. Mungkin karena sudah terbiasa dan memiliki banyak teman-teman yang juga memiliki nasib serupa.

Salah satu tradisi pada saat bulan puasa di keluargaku yang paling membuat rindu adalah pada saat berbuka bersama, shalat tarawih bersama dan shalat malam hari pada 10 hari terakhir. Bagiku, Tiga momen tersebut tidak akan pernah bisa ditukar dengan uang berapapun harganya. 

Bagi umat muslim, saat kalian mampu melewati bulan Ramadhan dengan penuh perjuangan seperti bangun sahur (sekitar 03.00–04.00 pagi ) setiap hari, sholat malam, baca al-qur’an dan shalat 5 waktu di masjid menjadi sebuah kemenangan. 

Dan kalian akan menebus semua perjuangan tersebut di malam sebelum esok hari lebaran. Kemenangan yang akan kalian rasakan bersama-sama umat muslim seluruh dunia.

Semoga Ramadhan kali ini akan menjadi berkah! Amiin.

Advertisements

Sepekan yang Bahagia Versi Gue

Pagi ini (23/2), saya merasa ada di puncak kebahagian. Bagaimana tidak, pekerjaan berjalan sesuai rencana selama sepekan ini.

Pagi ini saya pun menyempatkan untuk menhubungi ibu saya sekitar 45 menit sejak bagun pagi. Hanya menanyakan kabar terkini di rumah, apakah mereka juga sudah bangun?

Pagi ini lewat telfon pula adik saya Sabrina turut bercakap denganku sebelum dia persiapan berangkat teater di sekolahnya. Setidaknya mengikuti teater akan membantunya untuk bersosial dengan anak-anak seusianya ataupun di atasnya pikirku. Pun kedua adikku sama-sama dalam keadaan sehat. Alhamdulillah.

Sementara tadi malam bertemu lagi dengan sahabat karib saya selama di Jakarta, bisa dibilang Anjali di Film Koch-koch ho ta hai. haha..

Semoga hari ini berkah! Terima kasih Ya Allah 🙂

Tradisi Menghabiskan Uang dengan Cara Bijak

Setidaknya mulailah memahami bagaimana seharusnya cara menghabiskan uang secara bijak. Pelajaran ini saya dapatkan dari salah satu artikel cnbc make it, salah satu sub website dari cnbc internasional yang menawarkan informasi seputar keuangan, pekerjaan dan karir.

Sementara cnbc.com seperti yang kita ketahui khusus informasi seputar ekonomi dan bisnis dunia.

Dalam artikel tersebut, Penulis sekaligus Jurnalis, Kathleen Elkins menceritakan bagaimana ayahnya mengajarkan kedua anaknya agar bisa menghabiskan uang secara bijak.

Kata Elkins dalam artikelnya, ayahnya memberikan kebebasan kepada kedua anaknya dalam membeli barang, entah itu pakaian ataupun produk lain.

Namun, ayahnya menekankan agar setidaknya produk yang dibeli itu memang dibutuhkan dan awet. Artinya, saat membeli sebuah produk, ayahnya lebih menekankan pada kebutuhan serta kualitas, bukan semata karena harga produk yang murah.

“We can choose whatever we want, within reason, as long as we can explain exactly how we’re going to use it over at least the next year.

As my dad likes to say, “Anything goes … as long as it’s utilitarian,”

Tulisnya dalam sebuah artikel yang diterbitkan tepat pada hari natal tahun lalu.

Saya pikir tradisi seperti itu cukup penting bagi kita yang seringkali belum memahami secara kritis bagaimanana menghabiskan uang secara cerdas.

“As a result, we each devote real time to thinking about a quality purchase that will truly be functional, useful and durable. After all, we only have one shot each year,” lanjut Elkins.

Poin dari artikel tersebut menjelaskan agar kita selalu menghabiskan uang kepada produk yang memang kita butuhkan, meski membayar dengan harga yang sedikit lebih mahal.

As research shows, how you spend matters, and, often, is more important than how much you spend in total,” jelasnya.

Obat Penenang Itu Berupa Teh

Sering kali saya merasa lebih tenang setelah meneguk sedikit teh panas. Bagi saya, teh merupakan simbol kerukunan dan ketentraman. Seusai menghabiskan waktu seharian penuh terkadang seteguk teh panas akan membuat waktu terasa sedikit lebih lambat, pikiran terasa lebih enteng.

Sampai beberapa waktu lalu, saya membeli cangkir stainless steel (baja nirkarat) khusus untuk minuman teh saya. Setiap hari setidaknya saya harus menghabiskan satu gelas teh panas.

Harumnya daun teh yang tercampur dalam cairan panas hingga menguap ke permukaan wajah merupakan sugesti positif bagi saya. Bukan hanya saat sehat, tapi pada saat jatuh sakit saya selalu meneguk teh panas. Bahkan saya rela tidak minum obat saat sakit lebih memilih teh panas.

A cup of tea makes everything better

Unknown

Dulu ibu saya pernah mengatakan jika badan akan terserang penyakit flu atau masuk angin setidaknya minumlah teh panas ditambah makan yang kenyang serta tidur lebih awal. Maka, setidaknnya kondisimu akan jauh lebih baik saat pagi, tapi ini juga sugesti. hehehe..

Selain itu cara menikmati teh pun beragam, terkadang setelah sepulang kerja sambil mendengarkan alunan lagu-lagu The Beatles, Queen, Bob Marley, Bon Jovi atau pagi hari sebelum merencanakan perjalanan liburan akhir pekan.

Sementara itu untuk menu teh favorit di cafe yang sering saya pilih yaitu english breakfest. Kalau tidak salah menu teh ini memiliki warna lebih tua dibanding menu teh lainnya, rasanya sedikit lebih pahit dan classic.

Sebagai informasi saja dari segi ekonomi, teh turut berkontribusi pada pendapatan negara, berdasarkan pemberitaan kumparan pada Jumat (30/3/2018) ekspor teh Indonesia selama 2017 mencapai USD 117,96 juta atau Rp 1,5 triliun (kurs Rp 13.500). Angka ini hanya naik tipis yaitu sebesar 1,04 persen dibandingkan capaian tahun 2016 lalu sebesar USD 116,75 juta.

Jadi apa minuman penenang mu?

Buat yang Sering Jalan Sendiri Kemana-mana, Kita Mungkin Punya Kesamaan, Kamu?

Menjelajah kota Jakarta sendirian setiap waktu membuatku mengerti siapa orang-orang yang pantas dan tidak untuk kita pertahankan sebagai teman.

Perlahan tapi pasti kini aku sedikit tak mau ambil pusing untuk mengajak teman sekedar pergi ke sebuah cafe, atau tempat santai lainnya. Rasa berat untuk melangkah sendiri semakin hilang saat tak ada ekspektasi kepada siapapun.

Memang benar jika ekpektasi untuk mendapat balasan yang setimpal kepada orang lain hanya sebuah kemustahilan. Sejatinya apa yang sudah kita berikan kepada orang lain tak ada jaminan pasti bahwa mereka akan memberikan balasan setimpal atau minimal 75 persen dari ekspektasi awal kita.

Selain itu aku juga enggan untuk berkomentar banyak untuk membalas suatu percakapan yang pada akhrinya hanya sebuah klise.

“We never lose friends, we simply learn who the real ones are,” – Unknown

Poinnya adalah mereka yang memang respect dan percaya kepada kita ya tak akan perlu lama-lama untuk berkorban, meski untuk hal sepele sekalipun. Seperti pergi ke suatu tempat yang santai.

“Don’t let someone change who you are, to become what they need,” – Unknown

Jadi ya santai aja, tidak perlu terlalu berlebihan berkorban, hanya untuk mengajak teman-teman kalian pergi ke sebuah tempat. Boleh saja mengajak tapi secukupnya, karena memaksa kehendak seseorang dengan berdebat terlalu panjang dengan alasan-alasn yang banyak akan membuang-buang energi dan waktu.

Apalagi terkadang mereka mengajak ke tempat yang sebenarnya menurutmu tidak menarik. Barang kali dengan kalian pergi sendiri akan menemui orang-orang baru yang sejatinya memiliki karakter yang sama dengan kalian.

Hallo? are you? hahahaha..

Selamat menikmati waktu sendiri bersama kebebasan hati ~

Sebuah Catatan Untuk Keluarga Tercinta

Sudah satu tahun lebih aku meniggalkan kota kelahiranku. Pagi itu tepat 26 Agustus 2017 bersama rombongan keluarga, kami beranjak ke Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang menuju Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Pagi itu pula seluruh amanah dan harapan keluarga sepenuhnya diberikan kepadaku. Harapan mereka adalah agar kelak aku menjadi seorang laki-laki dengan nasib yang lebih baik.

“Nak jangan pernah tinggalkan solat ya, doa umik selalu menyertaimu” sepucuk pesan dari umikku yang sampai saat ini masihku simpan.

Setiba di Jakarta, sejujurnya pada hari itu, aku tak pernah terfikirkan pekerjaan apa dan bagaimana nasibku ke depannya. Aku hanya berbekal tekad, selebihnya hanya motivasi dari salah satu kakaku yang menerima kedatanganku yang juga terus membimbingku untuk terus belajar dan yakin semuanya akan baik-baik saja.

“Kheir In Shaa Allah, barangkali nasibmu di Jakarta, sekarang kamu minta maaf ke umi sama abi biar didoain kerja di Jakarta,” pesannya melalui telfon gengamku seminggu sebelum aku terbang ke Jakarta.

Terkadang seketika aku terdiam untuk meresapi rindu itu. Rindu yang nikmat, sambil mengingat dinginya udara kota, hangatnya pelukan orang-orang terdekat dan renyahnya obrolan sore bersama sahabat-sahabat kecil di kedai samping hamparan persawahan luas.

Namun, kini aku menyadari jika usiaku sudah beranjak dewasa, kenangan-kenangan itu hanya memori indah yang akan menguatkanku untuk terus berjalan. Iya perjalanan masih sangat jauh.

Wahai sahabtku, jika saja aku berkata jujur, yang aku inginkan hanya pulang. Pulang kembali di mana ketenangan hadir di antara canda tawa kita, di antara ejekan-ejekan receh sore hingga menjelang magrib.

Sementara itu, Allah SWT masih terus memperlebar jarak kita. Allah SWT mempunyai rencana lain, dan tentu saja Latif harus mempercayainya bahwa itu adalah rencananya yang terbaik.

Dalam tulisan ini Latif hanya ingin berterima kasih kepada semua orang terdekat. Termasuk orang tua, umikku yang selalu mendoakanku setiap detik, untuk abiku yang bekerja keras membiayai seluruh kebutuhanku yang tak pernah kurang sedikitpun dari pagi hingga petang.

Untuk Kakeku yang dulu mengantarkaku sekolah dasar hingga depan gerbang dan sekarang terdengar kabar berbaring di kasur karena sudah sakit-sakitan.

Kepada keluarga besar yang selalu mendukungku, meski aku punya banyak salah, tak ada yang sempurna. Latif juga ingin minta maaf ke semua sodara yang selama ini mungkin latif pernah salah bicara atau tingkah laku yang tidak mengenakkan.

Wassalam, salam hangat dari Jakarta, 9 September 2018.

Kisah Perajin Balon di Jakarta, Mampu Raup Omzet Hingga Rp 5 Juta Per Hari !

Pagi itu sekitar pukul 07.40 pagi Udin sedang sibuk menyiapkan pesanan balon dari salah seorang pelanggannya. Ia merupakan warga Cilacap yang merantau menjadi perajin balon sejak 30 tahun lebih Jakarta. Sebenarnya bukan hanya dia, masih ada sekitar 20 perajin balon lain di kawasan Jakarta Selatan yang berasal dari Cilacap. Mereka telah menjadi sebuah perkumpulan non-formal.

Dulu di Blok M Melawai, sekarang enggak boleh (sudah) ada mall, setelah di bangun terowongan pindah ke Kemang,” ucapnya saat ditemui di Jalan Kemang Selatan, Jakarta Selatan, Minggu (22/7).

Pria yang kini menginjak usia 50 tahun mengungkapkan salah satu alasanya menjadi perajin balon yakni karena pekerjaan tersebut masih mampu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Menariknya pekerjaan seperti Udin memang tak terkesan mewah atau elegan. Meski demikian jangan salah, ia mengaku sering mendapat kontrak suting dari stasiun televisi.

“Omzet kalau ramai pernah sampai Rp 5 juta per hari, namanya jualan kadang ramai enggak bisa ditentuin, kadang kalau dikontrak Televisi (tv) kontrak sehari Rp 1,5 juta per hari,” katanya sambil terus mengisi angin untuk balon pesanannya.

p_20180722_081854_vhdr_auto-014060327728019359339.jpeg

 

Tentu saja, kata pria kelahiran Cilacap 1963 tersebut penghasilannya tidak selalu besar. Pendapatan sebesar itu bisa ia capai hanya pada saat momen besar seperti perayaan pesta ulang tahun, lalu tahun baru dan momen besar lainnya.

“Rata-rata Rp 100 ribu ya dapet, kalau rata-rata ordernya setiap hari sampai 300 balon harganya Rp 8 ribu per balon,” tuturnya.

Menurut pria yang memiliki warna kulit sawo matang itu keramaian di  kawasan Kemang memang sangat strategis untuk bisnisnya. Apalagi ada banyak cafe yang tumbuh subur di sepanjang Jalan Kemang Selatan. Kebanyakan pelanggannya merupakan para kawula muda yang kerap merayakan pesta bersama teman-temannya di deretan cafe di Kemang.

“Saya melayani 24 jam, kadang  kalau malam ada yang telfon beli ke saya jam 02.00 pagi,  jam 01.00 pagi di Kemang itu enggak ada matinya. Kemang kalau malam itu ramai,” jelas pria yang akrab disapa Udin.

p_20180722_082707_vhdr_auto-013547213986045825688.jpeg

 

Meski demikian Udin mengaku sejak kehadiran internet bisnisnya mulai terancam. Ia khawatir sebab saat ini kompetitornya bukan hanya teman-teman perkumpulannya saja, melainkan para pebisnis jasa sewa atau beli balon online.

Sialnya di usianya yang semakin tua ia mengaku sudah tidak sanggup lagi mempelajari teknologi smartphone dan internet.

“Ramai dulu, dari online kan banyak Event Organizer (EO) kita enggak pakai WhatsApp (WA), kita jualnya ya gini-gini aja, ya seperti Go-Jek kan opang kalah juga sama Go-jek,” pungkasnya.