Tradisi Menghabiskan Uang dengan Cara Bijak

Setidaknya mulailah memahami bagaimana seharusnya cara menghabiskan uang secara bijak. Pelajaran ini saya dapatkan dari salah satu artikel cnbc make it, salah satu sub website dari cnbc internasional yang menawarkan informasi seputar keuangan, pekerjaan dan karir.

Sementara cnbc.com seperti yang kita ketahui khusus informasi seputar ekonomi dan bisnis dunia.

Dalam artikel tersebut, Penulis sekaligus Jurnalis, Kathleen Elkins menceritakan bagaimana ayahnya mengajarkan kedua anaknya agar bisa menghabiskan uang secara bijak.

Kata Elkins dalam artikelnya, ayahnya memberikan kebebasan kepada kedua anaknya dalam membeli barang, entah itu pakaian ataupun produk lain.

Namun, ayahnya menekankan agar setidaknya produk yang dibeli itu memang dibutuhkan dan awet. Artinya, saat membeli sebuah produk, ayahnya lebih menekankan pada kebutuhan serta kualitas, bukan semata karena harga produk yang murah.

“We can choose whatever we want, within reason, as long as we can explain exactly how we’re going to use it over at least the next year.

As my dad likes to say, “Anything goes … as long as it’s utilitarian,”

Tulisnya dalam sebuah artikel yang diterbitkan tepat pada hari natal tahun lalu.

Saya pikir tradisi seperti itu cukup penting bagi kita yang seringkali belum memahami secara kritis bagaimanana menghabiskan uang secara cerdas.

“As a result, we each devote real time to thinking about a quality purchase that will truly be functional, useful and durable. After all, we only have one shot each year,” lanjut Elkins.

Poin dari artikel tersebut menjelaskan agar kita selalu menghabiskan uang kepada produk yang memang kita butuhkan, meski membayar dengan harga yang sedikit lebih mahal.

As research shows, how you spend matters, and, often, is more important than how much you spend in total,” jelasnya.

Advertisements

Obat Penenang Itu Berupa Teh

Sering kali saya merasa lebih tenang setelah meneguk sedikit teh panas. Bagi saya, teh merupakan simbol kerukunan dan ketentraman. Seusai menghabiskan waktu seharian penuh terkadang seteguk teh panas akan membuat waktu terasa sedikit lebih lambat, pikiran terasa lebih enteng.

Sampai beberapa waktu lalu, saya membeli cangkir stainless steel (baja nirkarat) khusus untuk minuman teh saya. Setiap hari setidaknya saya harus menghabiskan satu gelas teh panas.

Harumnya daun teh yang tercampur dalam cairan panas hingga menguap ke permukaan wajah merupakan sugesti positif bagi saya. Bukan hanya saat sehat, tapi pada saat jatuh sakit saya selalu meneguk teh panas. Bahkan saya rela tidak minum obat saat sakit lebih memilih teh panas.

A cup of tea makes everything better

Unknown

Dulu ibu saya pernah mengatakan jika badan akan terserang penyakit flu atau masuk angin setidaknya minumlah teh panas ditambah makan yang kenyang serta tidur lebih awal. Maka, setidaknnya kondisimu akan jauh lebih baik saat pagi, tapi ini juga sugesti. hehehe..

Selain itu cara menikmati teh pun beragam, terkadang setelah sepulang kerja sambil mendengarkan alunan lagu-lagu The Beatles, Queen, Bob Marley, Bon Jovi atau pagi hari sebelum merencanakan perjalanan liburan akhir pekan.

Sementara itu untuk menu teh favorit di cafe yang sering saya pilih yaitu english breakfest. Kalau tidak salah menu teh ini memiliki warna lebih tua dibanding menu teh lainnya, rasanya sedikit lebih pahit dan classic.

Sebagai informasi saja dari segi ekonomi, teh turut berkontribusi pada pendapatan negara, berdasarkan pemberitaan kumparan pada Jumat (30/3/2018) ekspor teh Indonesia selama 2017 mencapai USD 117,96 juta atau Rp 1,5 triliun (kurs Rp 13.500). Angka ini hanya naik tipis yaitu sebesar 1,04 persen dibandingkan capaian tahun 2016 lalu sebesar USD 116,75 juta.

Jadi apa minuman penenang mu?

Kisah Perajin Balon di Jakarta, Mampu Raup Omzet Hingga Rp 5 Juta Per Hari !

Pagi itu sekitar pukul 07.40 pagi Udin sedang sibuk menyiapkan pesanan balon dari salah seorang pelanggannya. Ia merupakan warga Cilacap yang merantau menjadi perajin balon sejak 30 tahun lebih Jakarta. Sebenarnya bukan hanya dia, masih ada sekitar 20 perajin balon lain di kawasan Jakarta Selatan yang berasal dari Cilacap. Mereka telah menjadi sebuah perkumpulan non-formal.

Dulu di Blok M Melawai, sekarang enggak boleh (sudah) ada mall, setelah di bangun terowongan pindah ke Kemang,” ucapnya saat ditemui di Jalan Kemang Selatan, Jakarta Selatan, Minggu (22/7).

Pria yang kini menginjak usia 50 tahun mengungkapkan salah satu alasanya menjadi perajin balon yakni karena pekerjaan tersebut masih mampu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Menariknya pekerjaan seperti Udin memang tak terkesan mewah atau elegan. Meski demikian jangan salah, ia mengaku sering mendapat kontrak suting dari stasiun televisi.

“Omzet kalau ramai pernah sampai Rp 5 juta per hari, namanya jualan kadang ramai enggak bisa ditentuin, kadang kalau dikontrak Televisi (tv) kontrak sehari Rp 1,5 juta per hari,” katanya sambil terus mengisi angin untuk balon pesanannya.

p_20180722_081854_vhdr_auto-014060327728019359339.jpeg

 

Tentu saja, kata pria kelahiran Cilacap 1963 tersebut penghasilannya tidak selalu besar. Pendapatan sebesar itu bisa ia capai hanya pada saat momen besar seperti perayaan pesta ulang tahun, lalu tahun baru dan momen besar lainnya.

“Rata-rata Rp 100 ribu ya dapet, kalau rata-rata ordernya setiap hari sampai 300 balon harganya Rp 8 ribu per balon,” tuturnya.

Menurut pria yang memiliki warna kulit sawo matang itu keramaian di  kawasan Kemang memang sangat strategis untuk bisnisnya. Apalagi ada banyak cafe yang tumbuh subur di sepanjang Jalan Kemang Selatan. Kebanyakan pelanggannya merupakan para kawula muda yang kerap merayakan pesta bersama teman-temannya di deretan cafe di Kemang.

“Saya melayani 24 jam, kadang  kalau malam ada yang telfon beli ke saya jam 02.00 pagi,  jam 01.00 pagi di Kemang itu enggak ada matinya. Kemang kalau malam itu ramai,” jelas pria yang akrab disapa Udin.

p_20180722_082707_vhdr_auto-013547213986045825688.jpeg

 

Meski demikian Udin mengaku sejak kehadiran internet bisnisnya mulai terancam. Ia khawatir sebab saat ini kompetitornya bukan hanya teman-teman perkumpulannya saja, melainkan para pebisnis jasa sewa atau beli balon online.

Sialnya di usianya yang semakin tua ia mengaku sudah tidak sanggup lagi mempelajari teknologi smartphone dan internet.

“Ramai dulu, dari online kan banyak Event Organizer (EO) kita enggak pakai WhatsApp (WA), kita jualnya ya gini-gini aja, ya seperti Go-Jek kan opang kalah juga sama Go-jek,” pungkasnya.

 

 

Mengunjunggi Pulau Privat, Bintan

Kamis pagi sekali (21/3), saya menyiapkan pakaian, peralatan meliput dan cek jadwal penerbangan. Hari itu saya akan terbang ke Pulau Bintan, Kepulauan Riau untuk meliput PT Angkasa Pura II (Persero) yang akan mengadakan ‘Air lines Gatherig 2018’.

Sejujurnya, awalnya saya tidak mengetahui di mana letak pulau Bintan itu, hingga beberapa saat setelah mendapat kiriman undangan peliputan, saya penasaran untuk langsung menuliskan ‘Pulau Bintan’ di Mbah Google.

Taraaaaa !

Ternyata Mbah Google menunjukkan pulau Bintan dengan berbagai gambar pantai, resort mewah, serta balkon indah layaknya Maldives. Terlihat seperti kawasan khusus wisata ‘elit’.

Hari itu benar-benar excited banget, baru kali ini kunjungan terjauh dengan jarak 1.697 Km dari Jakarta Selatan. “Memang Indonesia itu indah,” dalam benakku beberapa saat setelah melihat hasil gambar Mbah Google.

Continue reading “Mengunjunggi Pulau Privat, Bintan”

Menelusuri Kota Jakarta Melalui Sebuah Pertanyaan

Siang itu saya memutuskan untuk menemani teman saya yang akan merayakan hari bahaginya (Pernikahan) bulan depan. Kami pergi ke salah satu pasar populer di Jakarta, yaitu Pasar Tanah Abang. Sebetulnya tidak ada yang spesial dari perjalanan ini, namun menelusuri kota Jakarta dengan sahabat di akhir pekan adalah sesuatu hal yang menarik.

Continue reading “Menelusuri Kota Jakarta Melalui Sebuah Pertanyaan”