Buat yang Sering Jalan Sendiri Kemana-mana, Kita Mungkin Punya Kesamaan, Kamu?

Menjelajah kota Jakarta sendirian setiap waktu membuatku mengerti siapa orang-orang yang pantas dan tidak untuk kita pertahankan sebagai teman.

Perlahan tapi pasti kini aku sedikit tak mau ambil pusing untuk mengajak teman sekedar pergi ke sebuah cafe, atau tempat santai lainnya. Rasa berat untuk melangkah sendiri semakin hilang saat tak ada ekspektasi kepada siapapun.

Memang benar jika ekpektasi untuk mendapat balasan yang setimpal kepada orang lain hanya sebuah kemustahilan. Sejatinya apa yang sudah kita berikan kepada orang lain tak ada jaminan pasti bahwa mereka akan memberikan balasan setimpal atau minimal 75 persen dari ekspektasi awal kita.

Selain itu aku juga enggan untuk berkomentar banyak untuk membalas suatu percakapan yang pada akhrinya hanya sebuah klise.

“We never lose friends, we simply learn who the real ones are,” – Unknown

Poinnya adalah mereka yang memang respect dan percaya kepada kita ya tak akan perlu lama-lama untuk berkorban, meski untuk hal sepele sekalipun. Seperti pergi ke suatu tempat yang santai.

“Don’t let someone change who you are, to become what they need,” – Unknown

Jadi ya santai aja, tidak perlu terlalu berlebihan berkorban, hanya untuk mengajak teman-teman kalian pergi ke sebuah tempat. Boleh saja mengajak tapi secukupnya, karena memaksa kehendak seseorang dengan berdebat terlalu panjang dengan alasan-alasn yang banyak akan membuang-buang energi dan waktu.

Apalagi terkadang mereka mengajak ke tempat yang sebenarnya menurutmu enggak menarik. Barang kali dengan kalian pergi sendiri akan menemui orang-orang baru yang sejatinya memiliki karakter yang sama dengan kalian.

Hallo? are you? hahahaha..

Selamat menikmati waktu sendiri bersama kebebasan hati ~

Advertisements

Sebuah Catatan Untuk Keluarga Tercinta

Sudah satu tahun lebih aku meniggalkan kota kelahiranku. Pagi itu tepat 26 Agustus 2017 bersama rombongan keluarga, kami beranjak ke Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang menuju Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Pagi itu pula seluruh amanah dan harapan keluarga sepenuhnya diberikan kepadaku. Harapan mereka adalah agar kelak aku menjadi seorang laki-laki dengan nasib yang lebih baik.

“Nak jangan pernah tinggalkan solat ya, doa umik selalu menyertaimu” sepucuk pesan dari umikku yang sampai saat ini masihku simpan.

Setiba di Jakarta, sejujurnya pada hari itu, aku tak pernah terfikirkan pekerjaan apa dan bagaimana nasibku ke depannya. Aku hanya berbekal tekad, selebihnya hanya motivasi dari salah satu kakaku yang menerima kedatanganku yang juga terus membimbingku untuk terus belajar dan yakin semuanya akan baik-baik saja.

“Kheir In Shaa Allah, barangkali nasibmu di Jakarta, sekarang kamu minta maaf ke umi sama abi biar didoain kerja di Jakarta,” pesannya melalui telfon gengamku seminggu sebelum aku terbang ke Jakarta.

Terkadang seketika aku terdiam untuk meresapi rindu itu. Rindu yang nikmat, sambil mengingat dinginya udara kota, hangatnya pelukan orang-orang terdekat dan renyahnya obrolan sore bersama sahabat-sahabat kecil di kedai samping hamparan persawahan luas.

Namun, kini aku menyadari jika usiaku sudah beranjak dewasa, kenangan-kenangan itu hanya memori indah yang akan menguatkanku untuk terus berjalan. Iya perjalanan masih sangat jauh.

Wahai sahabtku, jika saja aku berkata jujur, yang aku inginkan hanya pulang. Pulang kembali di mana ketenangan hadir di antara canda tawa kita, di antara ejekan-ejekan receh sore hingga menjelang magrib.

Sementara itu, Allah SWT masih terus memperlebar jarak kita. Allah SWT mempunyai rencana lain, dan tentu saja Latif harus mempercayainya bahwa itu adalah rencananya yang terbaik.

Dalam tulisan ini Latif hanya ingin berterima kasih kepada semua orang terdekat. Termasuk orang tua, umikku yang selalu mendoakanku setiap detik, untuk abiku yang bekerja keras membiayai seluruh kebutuhanku yang tak pernah kurang sedikitpun dari pagi hingga petang.

Untuk Kakeku yang dulu mengantarkaku sekolah dasar hingga depan gerbang dan sekarang terdengar kabar berbaring di kasur karena sudah sakit-sakitan.

Kepada keluarga besar yang selalu mendukungku, meski aku punya banyak salah, tak ada yang sempurna. Latif juga ingin minta maaf ke semua sodara yang selama ini mungkin latif pernah salah bicara atau tingkah laku yang tidak mengenakkan.

Wassalam, salam hangat dari Jakarta, 9 September 2018.

Kisah Perajin Balon di Jakarta, Mampu Raup Omzet Hingga Rp 5 Juta Per Hari !

Pagi itu sekitar pukul 07.40 pagi Udin sedang sibuk menyiapkan pesanan balon dari salah seorang pelanggannya. Ia merupakan warga Cilacap yang merantau menjadi perajin balon sejak 30 tahun lebih Jakarta. Sebenarnya bukan hanya dia, masih ada sekitar 20 perajin balon lain di kawasan Jakarta Selatan yang berasal dari Cilacap. Mereka telah menjadi sebuah perkumpulan non-formal.

Dulu di Blok M Melawai, sekarang enggak boleh (sudah) ada mall, setelah di bangun terowongan pindah ke Kemang,” ucapnya saat ditemui di Jalan Kemang Selatan, Jakarta Selatan, Minggu (22/7).

Pria yang kini menginjak usia 50 tahun mengungkapkan salah satu alasanya menjadi perajin balon yakni karena pekerjaan tersebut masih mampu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Menariknya pekerjaan seperti Udin memang tak terkesan mewah atau elegan. Meski demikian jangan salah, ia mengaku sering mendapat kontrak suting dari stasiun televisi.

“Omzet kalau ramai pernah sampai Rp 5 juta per hari, namanya jualan kadang ramai enggak bisa ditentuin, kadang kalau dikontrak Televisi (tv) kontrak sehari Rp 1,5 juta per hari,” katanya sambil terus mengisi angin untuk balon pesanannya.

p_20180722_081854_vhdr_auto-014060327728019359339.jpeg

 

Tentu saja, kata pria kelahiran Cilacap 1963 tersebut penghasilannya tidak selalu besar. Pendapatan sebesar itu bisa ia capai hanya pada saat momen besar seperti perayaan pesta ulang tahun, lalu tahun baru dan momen besar lainnya.

“Rata-rata Rp 100 ribu ya dapet, kalau rata-rata ordernya setiap hari sampai 300 balon harganya Rp 8 ribu per balon,” tuturnya.

Menurut pria yang memiliki warna kulit sawo matang itu keramaian di  kawasan Kemang memang sangat strategis untuk bisnisnya. Apalagi ada banyak cafe yang tumbuh subur di sepanjang Jalan Kemang Selatan. Kebanyakan pelanggannya merupakan para kawula muda yang kerap merayakan pesta bersama teman-temannya di deretan cafe di Kemang.

“Saya melayani 24 jam, kadang  kalau malam ada yang telfon beli ke saya jam 02.00 pagi,  jam 01.00 pagi di Kemang itu enggak ada matinya. Kemang kalau malam itu ramai,” jelas pria yang akrab disapa Udin.

p_20180722_082707_vhdr_auto-013547213986045825688.jpeg

 

Meski demikian Udin mengaku sejak kehadiran internet bisnisnya mulai terancam. Ia khawatir sebab saat ini kompetitornya bukan hanya teman-teman perkumpulannya saja, melainkan para pebisnis jasa sewa atau beli balon online.

Sialnya di usianya yang semakin tua ia mengaku sudah tidak sanggup lagi mempelajari teknologi smartphone dan internet.

“Ramai dulu, dari online kan banyak Event Organizer (EO) kita enggak pakai WhatsApp (WA), kita jualnya ya gini-gini aja, ya seperti Go-Jek kan opang kalah juga sama Go-jek,” pungkasnya.

 

 

Mengunjunggi Pulau Privat, Bintan

Kamis pagi sekali (21/3), saya menyiapkan pakaian, peralatan meliput dan cek jadwal penerbangan. Hari itu saya akan terbang ke Pulau Bintan, Kepulauan Riau untuk meliput PT Angkasa Pura II (Persero) yang akan mengadakan ‘Air lines Gatherig 2018’.

Sejujurnya, awalnya saya tidak mengetahui di mana letak pulau Bintan itu, hingga beberapa saat setelah mendapat kiriman undangan peliputan, saya penasaran untuk langsung menuliskan ‘Pulau Bintan’ di Mbah Google.

Taraaaaa !

Ternyata Mbah Google menunjukkan pulau Bintan dengan berbagai gambar pantai, resort mewah, serta balkon indah layaknya Maldives. Terlihat seperti kawasan khusus wisata ‘elit’.

Hari itu benar-benar excited banget, baru kali ini kunjungan terjauh dengan jarak 1.697 Km dari Jakarta Selatan. “Memang Indonesia itu indah,” dalam benakku beberapa saat setelah melihat hasil gambar Mbah Google.

Continue reading “Mengunjunggi Pulau Privat, Bintan”