Kisah Perajin Balon di Jakarta, Mampu Raup Omzet Hingga Rp 5 Juta Per Hari !

Pagi itu sekitar pukul 07.40 pagi Udin sedang sibuk menyiapkan pesanan balon dari salah seorang pelanggannya. Ia merupakan warga Cilacap yang merantau menjadi perajin balon sejak 30 tahun lebih Jakarta. Sebenarnya bukan hanya dia, masih ada sekitar 20 perajin balon lain di kawasan Jakarta Selatan yang berasal dari Cilacap. Mereka telah menjadi sebuah perkumpulan non-formal.

Dulu di Blok M Melawai, sekarang enggak boleh (sudah) ada mall, setelah di bangun terowongan pindah ke Kemang,” ucapnya saat ditemui di Jalan Kemang Selatan, Jakarta Selatan, Minggu (22/7).

Pria yang kini menginjak usia 50 tahun mengungkapkan salah satu alasanya menjadi perajin balon yakni karena pekerjaan tersebut masih mampu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Menariknya pekerjaan seperti Udin memang tak terkesan mewah atau elegan. Meski demikian jangan salah, ia mengaku sering mendapat kontrak suting dari stasiun televisi.

“Omzet kalau ramai pernah sampai Rp 5 juta per hari, namanya jualan kadang ramai enggak bisa ditentuin, kadang kalau dikontrak Televisi (tv) kontrak sehari Rp 1,5 juta per hari,” katanya sambil terus mengisi angin untuk balon pesanannya.

p_20180722_081854_vhdr_auto-014060327728019359339.jpeg

 

Tentu saja, kata pria kelahiran Cilacap 1963 tersebut penghasilannya tidak selalu besar. Pendapatan sebesar itu bisa ia capai hanya pada saat momen besar seperti perayaan pesta ulang tahun, lalu tahun baru dan momen besar lainnya.

“Rata-rata Rp 100 ribu ya dapet, kalau rata-rata ordernya setiap hari sampai 300 balon harganya Rp 8 ribu per balon,” tuturnya.

Menurut pria yang memiliki warna kulit sawo matang itu keramaian di  kawasan Kemang memang sangat strategis untuk bisnisnya. Apalagi ada banyak cafe yang tumbuh subur di sepanjang Jalan Kemang Selatan. Kebanyakan pelanggannya merupakan para kawula muda yang kerap merayakan pesta bersama teman-temannya di deretan cafe di Kemang.

“Saya melayani 24 jam, kadang  kalau malam ada yang telfon beli ke saya jam 02.00 pagi,  jam 01.00 pagi di Kemang itu enggak ada matinya. Kemang kalau malam itu ramai,” jelas pria yang akrab disapa Udin.

p_20180722_082707_vhdr_auto-013547213986045825688.jpeg

 

Meski demikian Udin mengaku sejak kehadiran internet bisnisnya mulai terancam. Ia khawatir sebab saat ini kompetitornya bukan hanya teman-teman perkumpulannya saja, melainkan para pebisnis jasa sewa atau beli balon online.

Sialnya di usianya yang semakin tua ia mengaku sudah tidak sanggup lagi mempelajari teknologi smartphone dan internet.

“Ramai dulu, dari online kan banyak Event Organizer (EO) kita enggak pakai WhatsApp (WA), kita jualnya ya gini-gini aja, ya seperti Go-Jek kan opang kalah juga sama Go-jek,” pungkasnya.

 

 

Advertisements

Apakah Saat Ini Bus Akap Mulai Ditinggalkan Penumpangnya?

Terminal Pulo Gebag, Jakarta Timur

Beberapa waktu lalu, saya mendapat task yang menarik dari kantor. Sekitar pukul 9 pagi saya berada di Terminal Pulo Gebang, ini juga pengalaman pertama kali.

Continue reading “Apakah Saat Ini Bus Akap Mulai Ditinggalkan Penumpangnya?”

Mengunjunggi Pulau Privat, Bintan

Kamis pagi sekali (21/3), saya menyiapkan pakaian, peralatan meliput dan cek jadwal penerbangan. Hari itu saya akan terbang ke Pulau Bintan, Kepulauan Riau untuk meliput PT Angkasa Pura II (Persero) yang akan mengadakan ‘Air lines Gatherig 2018’.

Sejujurnya, awalnya saya tidak mengetahui di mana letak pulau Bintan itu, hingga beberapa saat setelah mendapat kiriman undangan peliputan, saya penasaran untuk langsung menuliskan ‘Pulau Bintan’ di Mbah Google.

Taraaaaa !

Ternyata Mbah Google menunjukkan pulau Bintan dengan berbagai gambar pantai, resort mewah, serta balkon indah layaknya Maldives. Terlihat seperti kawasan khusus wisata ‘elit’.

Hari itu benar-benar excited banget, baru kali ini kunjungan terjauh dengan jarak 1.697 Km dari Jakarta Selatan. “Memang Indonesia itu indah,” dalam benakku beberapa saat setelah melihat hasil gambar Mbah Google.

Continue reading “Mengunjunggi Pulau Privat, Bintan”

Menelusuri Kota Jakarta Melalui Sebuah Pertanyaan

Siang itu saya memutuskan untuk menemani teman saya yang akan merayakan hari bahaginya (Pernikahan) bulan depan. Kami pergi ke salah satu pasar populer di Jakarta, yaitu Pasar Tanah Abang. Sebetulnya tidak ada yang spesial dari perjalanan ini, namun menelusuri kota Jakarta dengan sahabat di akhir pekan adalah sesuatu hal yang menarik.

Continue reading “Menelusuri Kota Jakarta Melalui Sebuah Pertanyaan”